Tuesday, May 24, 2016

SIMPLE DREAM

Sebagian besar orang beranggapan MIMPI adalah bunga tidur. Memang kalau tidur itu kita suka mimpi dari mulai yang aneh sampai yang ajaib, namun di sini yang bakal aku omongin mimpi dalam arti cita-cita beda dengan mimpi dalam tidur kita. Justru mimpi pada tidur dianggap sama seperti khayalan dan angan-angan.


Dari kecil orang tua, guru dan orang-sekitar selalu bertanya pada kita "apa cita-cita mu kalo sudah besar?" dan pasti sebagian anak-anak akan menjawab mau jadi dokter, insyinyur, guru, mau jadi seperti papa atau bunda dan masih banyak lagi. Pada akhir nya, sebagian ada yang berubah cita-cita setelah melewati perjalanan hidup dari kecil sampai dewasa, menemukan feel yang cocok untuk diri sendiri. Untuk mendapatkan motivasi dalam mengejar cita-cita bisa mempelajari kisah sukses orang lain atau membaca atau melihat film motivasi hidup.


Kalo disuruh menyebutkan MIMPI AKU, langsung blank pikiran aku karena aku bukan orang yang berani untuk bermimpi. Padahal kata orang hebat, berMIMPIlah dan percaya akan mimpi mu. Berawal dari mimpi, kamu akan punya keinginan berusaha keras dan semangat untuk bisa mewujudkan nya.


Alasan aku pribadi takut terlalu mendetail dan fanatik untuk bermimpi adalah takut stres dan depresi jika tidak tercapai. Tapi bukan berarti tidak punya sama sekali, mungkin mimpi ku kurang terlalu kuat sehingga tidak memberikan motivasi buat aku menggapai impian, kurang bisa membantu aku untuk mengekspresikan keinginanku.


Sampai saat ini, mimpi ku yang sudah tercapai adalah menyelesaikan kuliah S1, simple kan. Jika aku tidak bisa mempunyai mimpi yang muluk, paling tidak bermimpi untuk menjadi orang yang berguna, dicintai orang banyak dengan hidup yang berkecukupan, tidak menyusahkan orang lain.






Tuesday, May 3, 2016

Baby Blues Sydrome pada Ayah

Akhir - akhir ini lagi heboh bahas masalah Postpartum Depression (PPD), banyak banget postingan yang sliweran di medsos aku, tapi kayak nya itu jadi masalah ekstrim buat aku. Well, kita bahas adik nya dulu aja deh si Baby Blues. Selama ini yang kita taubahwa Baby Blues hanya terjadi pada ibu saja terutama pada saat melahirkan anak pertama, tapi ternyata (aku pun baru tau) bahwa Baby Blues ini dapat terjadi pula pada Ayah lho (nah loh?!?). Kita pahami dulu masalah Baby Blues, selanjutnya Baby Blues pada Ayah.


Baby Blues adalah depresi ringan yang dialami ibu setelah melahirkan. Baby Blues Syndrome (BBS) dipengaruhi oleh ketidaksiapan ibu untuk melahirkan termasuk kesulitan menyusui, ketidakmampuan memandikan bayi dan kekurangan pengetahuan tentang cara menangani bayi.


Apa yang dirasakan ayah tidak persis sama dengan baby blues syndrome yang dirasakan oleh ibu baru. Baby blues syndrome pada ibu yang baru melahirkan, lebih berhubungan dengan fluktuasi hormonal yang terjadi dan dapat menghilang sendiri setelah 2 minggu. Sementara yang bisa terjadi pada ayah, lebih berhubungan dengan kondisi emosional yang terjadi pada ayah. Selain itu, pada ayah memiliki onset yang lebih lambat dan durasi yang lebih lama dibandingkan baby blues syndrome biasa.


BBS yang dialami seorang ayah bisa terjadi menjelang dan setelah istri melahirkan. Menjelang kelahiran si buah hati, seorang pria cenderung diliputi rasa takut dan khawatir pada keselamatan sang istri dan anak. Sosok yang biasanya kuat, berani, dan tegar berubah seketika. Bahkan, seorang calon ayah bisa dihantui perasaan bersalah bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Tak hanya itu, kehadiran si buah hati yang harusnya disambut dengan bahagia dan cinta kasih, bisa berubah menjadi kondisi yang menakutkan. Hal ini biasanya karena ruang gerak Ayah menjadi terisolasi dan terbatas.


Penyebab lain seorang ayah mengalami BBS, karena faktor hormonal. Tekanan dan kekhawatiran muncul seiring tanggung jawab sebagai seorang ayah. Stres bisa meningkat saatme ayah berpikir mengenai biaya perawatan dan kebutuhan anak yang tidak sesuai dengan pendapatannya.


Adapun gejala yang tampak pada Ayah yang mengalami BBS adalah :

- Mudah stres dan marah

- Kehilangan rasa humor

- Mudah lelah

- Menghindari tangisan bayi

- Mengalami gangguan tidur (insomnia atau justru banyak tidur)

- Terobsesi dengan masalah yang dihadapi (misalnya masalah finansial)


Dalam Journal of Child Psychology and Psychiatry, Dr James Paulson dan rekan-rekannya mempublikasikan penelitian tentang depresi pada orang tua 9-24 bulan setelah kelahiran.
Mereka menemukan bahwa depresi pada ayah secara signifikan berpengaruh terhadap kemampuan anak dalam memahami kosakata selama setahun pertama.


Meskipun depresi pada ibu juga berpengaruh, depresi pada ayah-lah yang mengurangi kemampuan anak berbahasa. “Ibu memiliki jumlah waktu yang cukup ketika mengurus bayi. Berbeda dengan ayah,” kata Paulson.


Association for Psychological Science Annual Convention yang diselenggarakan di San Francisco bulan ini menunjukkan bahwa depresi pada ayah muda mempengaruhi diregulasi sistem stres anak saat pertengahan masa kanak-kanak. “Sistem stres anak tampaknya lebih sensitif kepada depresi ayah ketimbang ibu.”


Seperti ibu baru, seorang ayah baru juga sebenarnya membutuhkan dukungan, tempat berbagi cerita dan support. Hanya saja, seringkali sebagai laki-laki, seorang ayah tidak mau mengatakannya. Bantulah ayah untuk membagi emosi  serta tekanan yang  dirasakan. Bersama-sama pasangan menambah ilmu parenting juga akan sangat bermanfaat agar ayah merasa percaya diri dengan peran barunya. Ibu dan ayah baru lebih baik meluangkan waktu untuk berdua sebentar saja agar saling merasa tidak diabaikan. Jika dirasakan terlalu penat, ayah juga boleh meminta “me time” dan melakukan relaksasi. Asal dikomunikasikan dengan baik, tentu pasangan tidak merasa keberatan akan hal ini.


Dengan berbagi beban, dan selalu berusaha mengerti yang dirasakan oleh pasangan semua nya akan terasa lebih ringan demi diri sendiri, pasangan dan si buah hati.