Setiap orang tua pasti menginginkan ketrampilan sensoris dan motoris tumbuh dan berkembang secara optimal. Maka dari itu, biasa nya orang tua menciptakan kegiatan lewat permainan yang seru bisa permainan outdoor maupun indoor untuk merangsang perkembangan sensoris dan motoris nya.
Sebaiknya kita memahami terlebih dahulu pengertian dari sensoris dan motoris itu agar dapat memberikan stimluasi yang tepat dan sesuai dengan tahap perkembangan anak. FYI, awal mempunyai anak saya pun gak mengetahui arti kata sensoris dan motoris itu hihihi..
proses sensorik adalah kemampuan untuk memproses atau mengorganisasikan input sensorik yang diterima. Biasanya proses ini terjadi secara otomatis, misalnya ketika mendengar suara kicauan burung, otak langsung menterjemahkan sebagai bahasa atau suara binatang. Secara umum proses sensorik juga dapat diartikan sebagai proses masuknya rangsang melalui alat indera ke otak (serebral) kemudian kembali melalui saraf motoris dan berakhir dengan perbuatan.
Proses sensorik disebut juga pengamatan, yaitu gejala mengenal benda-benda disekitar dengan mempergunakan alat indera. Jadi sensoris terbagi atas sensoris perabaan, sensoris pendengaran, sensoris penciuman, sensoris penglihatan, dan sensoris pengecapan.
Motoris terbagi menjadi 2 yaitu motoris kasar dan motoris halus. Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar, sebagian besar atau seluruh anggota tubuh, yang dipengaruhi oleh usia, berat badan dan perkembangan anak secara fisik. Contohnya kemampuan duduk, menendang, berlari, atau naik turun tangga.
Perkembangan motorik ini beriringan dengan proses kematangan fisik anak. Dan kemampuan motorik ini merupakan hasil dari banyak faktor, yaitu perkembangan sistem saraf, kemampuan fisik yang memungkinkannya untuk bergerak, dan lingkungan yang mendukung perkembangan kemampuan motorik.
Misalnya, anak akan mulai berjalan jika sistem sarafnya sudah matang, proporsi kakinya cukup kuat untuk menopang tubuhnya, dan anak sendiri ingin berjalan untuk mengambil mainannya.
Sebaliknya, motorik halus adalah kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil dan koordinasi mata-tangan. Saraf motorik halus ini dapat dilatih dan dikembangkan melalui kegiatan dan rangsangan secara rutin, seperti bermain puzzle, menyusun balok, memasukan benda ke dalam lubang sesuai bentuknya dan sebagainya.
Kemampuan motorik halus setiap anak berbeda-beda, baik dalam hal kekuatan maupun ketepatannya. Perbedaan ini dipengaruhi oleh pembawaan anak dan stimulai yang didapatnya.
Setiap anak bisa mencapai tahap perkembangan sensoris dan motoris yang optimal asal mendapatkan stimulasi yang tepat. Sebaiknya teliti memperhatikan perkembangan anak agar dapat mendeteksi secara dini segala keterlambatan atau gangguan pada kemampuan sensoris dan motoris, dan segera koreksi agar tidak mempengaruhi perkembangan sensoris dan motoris nya. Anak akan jadi bosan mengembangkan kemampuan sensoris dan motoris jika dia kurang mendapatkan rangsangan. Tapi, bukan berarti boleh memaksakan satu bentuk stmilasi atau rangsangan pada anak.
Motoris terbagi menjadi 2 yaitu motoris kasar dan motoris halus. Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar, sebagian besar atau seluruh anggota tubuh, yang dipengaruhi oleh usia, berat badan dan perkembangan anak secara fisik. Contohnya kemampuan duduk, menendang, berlari, atau naik turun tangga.
Perkembangan motorik ini beriringan dengan proses kematangan fisik anak. Dan kemampuan motorik ini merupakan hasil dari banyak faktor, yaitu perkembangan sistem saraf, kemampuan fisik yang memungkinkannya untuk bergerak, dan lingkungan yang mendukung perkembangan kemampuan motorik.
Misalnya, anak akan mulai berjalan jika sistem sarafnya sudah matang, proporsi kakinya cukup kuat untuk menopang tubuhnya, dan anak sendiri ingin berjalan untuk mengambil mainannya.
Sebaliknya, motorik halus adalah kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil dan koordinasi mata-tangan. Saraf motorik halus ini dapat dilatih dan dikembangkan melalui kegiatan dan rangsangan secara rutin, seperti bermain puzzle, menyusun balok, memasukan benda ke dalam lubang sesuai bentuknya dan sebagainya.
Kemampuan motorik halus setiap anak berbeda-beda, baik dalam hal kekuatan maupun ketepatannya. Perbedaan ini dipengaruhi oleh pembawaan anak dan stimulai yang didapatnya.
Setiap anak bisa mencapai tahap perkembangan sensoris dan motoris yang optimal asal mendapatkan stimulasi yang tepat. Sebaiknya teliti memperhatikan perkembangan anak agar dapat mendeteksi secara dini segala keterlambatan atau gangguan pada kemampuan sensoris dan motoris, dan segera koreksi agar tidak mempengaruhi perkembangan sensoris dan motoris nya. Anak akan jadi bosan mengembangkan kemampuan sensoris dan motoris jika dia kurang mendapatkan rangsangan. Tapi, bukan berarti boleh memaksakan satu bentuk stmilasi atau rangsangan pada anak.
No comments:
Post a Comment